Over Tropical Skies
Blog ini mengandungi intisari macam-macam dari kerenah umat yang disebut manusia ini.
Over Tropical Skies
Blog ini mengandungi intisari macam-macam dari kerenah umat yang disebut manusia ini.
Minggu, 20 Maret 2022
Love vs Hate------------Light vs Darkness
Jumat, 25 Februari 2022
When Death is the Beginning of Life
Sabtu, 18 Desember 2021
Talking with God
Kamis, 14 Oktober 2021
To the Countries of the World - Mene Mene Tekel Upharsin
Minggu, 03 Oktober 2021
Gypsies, Friends, Thieves, Foes, Family, Politicians, Deceivers and Philanderers
Selasa, 31 Agustus 2021
Remembrance
Jumat, 12 Maret 2021
Sejarah Indonesia sebelum Merdeka
The History of Indonesia before independence.
Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah berdasarkan penemuan "Manusia Jawa" yang berusia 1,7 juta tahun yang lalu. Periode sejarah Indonesia dapat dibagi menjadi lima era: Era Prakolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan Islam di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan yang terutama mengandalkan perdagangan; Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda, Portugis, dan Spanyol) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20; Era Kemerdekaan Awal, pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) sampai jatuhnya Soekarno; Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (1966–1998); serta Orde Reformasi yang berlangsung sampai sekarang.
Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni awal adalah fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.
Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 60 000 sampai 70 000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia.[3] Mereka, yang berfenotipe kulit gelap dan rambut ikal rapat, menjadi nenek moyang penduduk asli Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk permukiman-permukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.
Era Kerajaan-Kerajaan di Nusantara
Sejarah awal
Lihat pula: Sejarah Nusantara
Para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di Pulau Jawa dan Sumatra atau Swarna Dwipa sekitar 200 SM. Bukti fisik awal yang menyebutkan mengenai adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada abad ke-5, yaitu Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 ajaran Buddhisme telah mencapai wilayah tersebut.
Nusantara telah mempunyai warisan peradaban berusia ratusan tahun dengan dua imperium besar, yaitu Sriwijaya di Sumatra pada abad ke-7 hingga ke-14 dan Majapahit di Jawa pada abad ke-13 sampai ke-16, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang acap kali menjadi vasal tetangganya yang lebih kuat atau saling terhubung dalam semacam ikatan perkawinan dan perdagangan (seperti di Maluku). Hal tersebut telah terjadi sebelum Eropa Barat mengalami masa Renaisans pada abad ke-16.
Kerajaan Hindu-Buddha
Artikel utama: Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha
Prasasti Tugu peninggalan Raja Purnawarman dari Taruma
Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Buddha, yaitu Kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok, I Ching, mengunjungi ibu kota Sriwijaya, Palembang, sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.
Kerajaan & Kesultanan Islam
Artikel utama: Sejarah Nusantara pada era kerajaan Islam
Kesultanan sebagai sebuah pemerintahan oleh penguasa Muslim hadir di Indonesia sekitar abad ke-12 dan membangung tamadun. Namun, sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Tiongkok, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke-7.
Menurut sumber-sumber Cina zaman Dinasti Tang, menjelang akhir perempatan ketiga abad 7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin permukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatra. Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini tampak pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang takbegitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.” Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Buddha.
Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain adalah Kesultanan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di Kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah.
Kesultanan Islam kemudian semakin menyebarkan pelbagai ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu dan Buddha sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatra. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di Timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.
Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena para penyebar dakwah atau mubalig merupakan utusan dari negara-negara Muslim yang datang dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubalig ini bekerja melalui cara berdagang, para mubalig inipun menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk indigenos, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk di antaranya: Kesultanan Demak Kerajaan Djipang Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kesultanan Mataram, Kesultanan Iha, Kesultanan Gowa, Kesultanan Gorontalo, Kesultanan Ternate, dan Kesultanan Tidore di Maluku.
Era kolonial
Kolonisasi Portugis dan Spanyol
Artikel utama: Sejarah Nusantara Zaman Portugis dan Spanyol
Afonso (kadang juga ditulis Alfonso) de Albuquerque. Karena tokoh inilah, yang membuat kawasan Nusantara waktu itu dikenal oleh orang Eropa dan dimulainya kolonisasi berabad-abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutama Britania dan Belanda—juga Spanyol dalam waktu yang singkat.
Dari Sungai Tajo yang bermuara ke Samudra Atlantik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Atlantik, yang mungkin memakan waktu sebulan hingga tiga bulan, melewati Tanjung Harapan di Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.
”Pada abad ke-16 saat petualangan itu dimulai biasanya para pelaut negeri Katolik itu diberkati oleh pastor dan raja sebelum berlayar melalui Sungai Tagus,” kata Teresa. Biara St Jeronimus atau Biara Dos Jeronimos dalam bahasa Portugis itu didirikan oleh Raja Manuel pada tahun 1502 di tempat saat Vasco da Gama memulai petualangan ke timur.
Museum Maritim atau orang Portugis menyebut Museu de Marinha itu didirikan oleh Raja Luis pada 22 Juli 1863 untuk menghormati sejarah maritim Portugis.
Selain patung di taman, lukisan Afonso de Albuquerque juga menjadi koleksi museum itu. Di bawah lukisan itu tertulis, ”Gubernur India 1509-1515. Peletak dasar Kerajaan Portugis di India yang berbasis di Ormuz, Goa, dan Malaka. Pionir kebijakan kekuatan laut sebagai kekuatan sentral kerajaan”. Berbagai barang perdagangan Portugis juga dipamerkan di museum itu, bahkan gundukan lada atau merica.
Ada sejumlah motivasi mengapa Kerajaan Portugis memulai petualangan ke timur. Ahli sejarah dan arkeologi Islam Uka Tjandrasasmita dalam buku Indonesia-Portugal: Five Hundred Years of Historical Relationship (Cepesa, 2002), mengutip sejumlah ahli sejarah, menyebutkan tidak hanya ada satu motivasi Kerajaan Portugis datang ke Asia. Ekspansi itu mungkin dapat diringkas dalam tiga kata bahasa Portugis, yakni feitoria, fortaleza, dan igreja. Arti harfiahnya adalah emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.
Menurut Uka, Albuquerque, Gubernur Portugis Kedua dari Estado da India, Kerajaan Portugis di Asia, merupakan arsitek utama ekspansi Portugis ke Asia. Dari Goa, ia memimpin langsung ekspedisi ke Malaka dan tiba di sana awal Juli 1511 membawa 15 kapal besar dan kecil serta 600 tentara. Ia dan pasukannya mengalahkan Malaka 10 Agustus 1511. Sejak itu Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Setelah menguasai Malaka, ekspedisi Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu mencapai Maluku, pusat rempah-rempah.
Periode kolonisasai Portugis di Nusantara
Periode 1511-1526, selama 15 tahun, Nusantara menjadi pelabuhan maritim penting bagi Kerajaan Portugis, yang secara reguler menjadi rute maritim untuk menuju Pulau Sumatra, Jawa, Banda, dan Maluku.
Pada tahun 1511 Portugis mengalahkan Kerajaan Malaka.
Pada tahun 1522, Portugis sudah sampai di Pelabuhan Sunda untuk menandatangani perjanjian dagang dengan Raja Sunda. Perjanjian dagang tersebut dilakukan pada tanggal 21 Agustus 1522. Pada hari yang sama dibangun sebuah prasasti yang disebut Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal di suatu tempat yang saat ini menjadi sudut Jalan Cengkih dan Jalan Kali Besar Timur I, Jakarta Barat. Dengan perjanjian ini maka Portugis dibolehkan membangun gudang atau benteng di Sunda Kelapa.
Pada 1512, Afonso de Albuquerque mengirim sebuah ekspedisi yang terdiri dari dua kapal dan sebuah karavel di bawah pimpinan Antonio de Abreu untuk mencari kepulauan rempah-rempah.
Kehadiran Portugis di perairan dan kepulauan Indonesia itu telah meninggalkan jejak-jejak sejarah yang sampai hari ini masih dipertahankan oleh komunitas lokal di Nusantara, khususnya flores, Solor dan Maluku. Di Jakarta, terdapat Kampong Tugu yang terletak di antara Kali Cakung, pantai Cilincing, dan tanah Marunda. Penduduk kampung tersebut menamakan diri "orang Portugis" dan percaya bahwa mereka adalah turunan bangsa Portugis.
Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing di bawah pimpinan Anthoni d'Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat - seperti dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli, yang terletak di antara Negeri Hitu Lama dan Mamala di Pulau Ambon sekarang.[12] Namun hubungan dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen.
Salah seorang misionaris terkenal adalah Fransiskus Xaverius. Tiba di Ambon pada tahun 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Pada akhir tahun 1575, bangsa Portugis menyerah kepada Sultan Babullah.
Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis, dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil memaksa Portugis untuk menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen dan di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Maluku.
Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602, dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku. Di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, Kepala Operasional VOC, perdagangan cengkih di Maluku sepunuh di bawah kendali VOC selama hampir 350 tahun. Untuk keperluan ini VOC tidak segan-segan mengusir pesaingnya; Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahkan puluhan ribu orang Maluku menjadi korban kebrutalan VOC.
Kemudian mereka membangun benteng di Ternate tahun 1511, kemudian tahun 1512 membangun Benteng di Amurang Sulawesi Utara. Portugis kalah perang dengan Spanyol maka daerah Sulawesi Utara diserahkan dalam kekuasaan Spanyol (1560 hingga 1660). Kerajaan Portugis kemudian dipersatukan dengan Kerajaan Spanyol. (Baca buku:Sejarah Kolonial Portugis di Indonesia, oleh David DS Lumoindong). Abad 17 datang armada dagang VOC (Belanda) yang kemudian berhasil mengusir Portugis dari Ternate, sehingga kemudian Portugis mundur dan menguasai Timor timur (sejak 1515).
Kolonialisme dan Imperialisme mulai merebak di Indonesia sekitar abad ke-15, yaitu diawali dengan pendaratan bangsa Portugis di Malaka dan bangsa Belanda yang dipimpin Cornellis de Houtman pada tahun 1596, untuk mencari sumber rempah-rempah dan berdagang.
Perlawanan Rakyat terhadap Portugis
Kedatangan bangsa Portugis ke Semenanjung Malaka dan ke Kepulauan Maluku merupakan perintah dari negaranya untuk berdagang.
Perlawanan Rakyat Minahasa terhadap Portugis
Perjuangan perlawanan Rakyat Perserikatan Minahasa melawan Portugis telah berlangsung dari tahun 1512-1560, dengan gabungan perserikatan suku-suku di Minahasa maka mereka dapat mengusir Portugis. Portugis membangun beberapa Benteng pertahanan di Minahasa di antaranya di Amurang dan Kema.
Perlawanan Rakyat Malaka terhadap Portugis
Pada tahun 1511, armada Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque menyerang Kerajaan Malaka. Usaha perlawanan kolonial Portugis di Malaka yang terjadi pada tahun 1513 mengalami kegagalan karena kekuatan dan persenjataan Portugis lebih kuat. Pada tahun 1527, armada Demak di bawah pimpinan Fatahillah/Falatehan dapat menguasai Banten,Sunda Kelapa, dan Cirebon. Armada Portugis dapat dihancurkan oleh Fatahillah/Falatehan dan ia kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang artinya kemenangan besar, yang kemudian menjadi Jakarta.
Perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis
Mulai tahun 1554 hingga tahun 1555, upaya Portugis tersebut gagal karena Portugis mendapat perlawanan keras dari rakyat Aceh. Pada saat Sultan Iskandar Muda berkuasa, Kerajaan Aceh pernah menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1615 dan 1629.
Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis
Bangsa Portugis pertama kali mendarat di Maluku pada tahun 1511. Kedatangan Portugis berikutnya pada tahun 1513. Akan tetapi, Ternate merasa dirugikan oleh Portugis karena keserakahannya dalam memperoleh keuntungan melalui usaha monopoli perdagangan rempah-rempah.
Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis, namun dapat diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede. Selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis diusir yang kemudian bermukim di Pulau Timor.
Sabtu, 27 Februari 2021
Something Amiss
Minggu, 31 Januari 2021
Old Things New Things
Kamis, 02 Juli 2020
I am now trying to learn more about my creator. This was as a result the decisions and choices made by mere mortals like myself are flawed and defective. During this last couple of years I have heard about the deaths of 4 of my ex-classmates. They were good people, righteous, did what was right in the eyes of God, no vices and a through and through dedicated family persons. Yet they were plucked in the prime of their lives and their families left to grieve. Death is very difficult thing to accept. For all its pains, shortcomings, and failures, it is the only life we have experienced thus far as humans. Granted we have been told and even read about the wonderful things awaiting us when we exit this world albeit we obey and follow certain tenets spelt out clearly before us, yet it does not make us responsive, or excited about the "thing" that will befall all of us eventually. In short after spending so much time learning his precepts and trying ot understand HIM, I am not even one step closer to the goal since when I first started on this pilgrimage of knowledge, both spiritual and physical.
Perhaps the flaw lies in us trying to understand HIM by the way we approach the subject, what I mean is that we cannot "learn" about HIM and our faith, the way we learn about Physics, Mathematics, Medicine, Engineering etc.etc. HE is Spirit and the way we humans craft our thoughts and act on them is diametrically oppossite to His ways. Meaning even if we had a IQ of 200 and an acclaimed genius in our field of study, but we would be found totally wanting and ignorant when it comes up and faces the Almighty. One cannot or it is totally impossible to put down in words when we want to describe the Spirit for the Spirit is not hampered by time or space, but we are.
But the Almighty has taught us to be as little children and to trust and believe totally in the Father just like a little one would. Let the smart people of the world play with their smart abd silly little games that seems amuse them.
Selasa, 30 Juni 2020
Bapak Kopi Gua Teh
Below is appended a video clip of the Chinese Lunar New Year as celebrated in Indonesia. A reminder though, this clip is not for Indonesians of Chinese parentage but for the benefit of the dirty word "foreigners". Yes after two milleniums we are still foreigners not only in the eyes of our motherland (Indonesia) but also in the eyes of the country of our ancestors. Perhaps it is destiny that tags us as "foreigners", the largest and biggest diaspora in the world.
In hindsight if, here I emphasize the word "if", should our ancestors have had an inkling of what the progengy and posterity hold for the progeny and posterity, perhaps, perhaps they might have hijcaked the junks in which they came and hightailed it back to the Chinese Mainland. At least there the tormentors looked likes us but also spoke the same language. Just a wishful thought...
Last nite as I was surfing the net, I found to my shock and horror of the death of a classmate of mine way back in the seventies. The epitaph was simple and all it said was the date of death and his vocation. The site was put up by the specialists register of Malaysia whenever one of its members has returned to the stars. He was in his mid-fifties and he looked so healthy and sprite. Unfortunately the site did not mention the cause of death. I wanted to uncover more details about him but being from another country and wanting to dig up facts about someone who was from Malaysia would only be inviting bullets and a cold shoulder. For all the talk about getting along with one's neighbors are only talk, cheap talk for those who were gullible enough to believe and accept such rubbish.
I came to know my Lord and Creator when I was brought down to my knees literally not metaphorically. There was no one else left whom I could depend on anymore. And that is the most distinguishing factor about my Lord, and that is the distance between Him and myself was the distance between the floor and my knees.
All Glory Be To Him In The Highest, Forever and Ever.
Kamis, 25 Juni 2020
Ibarat Buaya Buntung
The above traditional dance format emerged from Central Jawa near the borders with Tjirebon. The dance is called sintren or lais.
When I was in KLin the early seventies, I observed that there were not many cultural expositions from the various ethnic groups. This may in fact partly due to the citizens relying and borrowing heavily from western cultures especially Great Britain its former colonial master. In a way I can understand this phenomenon as the Brits were definitely more accomodating in Malaya, than the Dutch in Indonesia.
Well that is all past now as both colonies and conolizers have put the past behind them and noved on to a greater common good for humanity.
It is a cloudy Wednesday morning and looks like it is going to shower. The crazy fella in the white house/or black house whichever is more applicable is now a raving lunatic waving and pointing at all and sundry who dare to defy him. Well as sure as the sun will rise, the days of his kingdom is coming to an end....as did the prediction in.....Mene Mene Tekel Ufarsin, many centuries ago. People in general are fed up with his raving lunacy. He is a strong candidate for the cuckoo's nest. He meets all the necessary requirements.
It is a hot thursday afternoon. Hardly any cars on the roads. People are still not quite confident to venture out of their house. The virus has hit the world on a ginormous scale.
Senin, 22 Juni 2020
When The Moon Turned Red
Tis a Monday morning. For those disturbed by the lyrics, rhythm or the song in general, please turn it off, the choice lies with you. The song is just a simple song about welcoming the morning of Sunday and dedicated to all who worship Him. Funny thing though, so many people worshipping so many Gods, but they all lead to the same path.
Tembang buat yang kangen tanah air dan ibu pertiwi.
Selamat malam, Sampe jumpa.
Selasa, 16 Juni 2020
Kalo Gua Sukses, Lu Pun Sama Juga
This Thursday morning started of badly. To top it all, I did not catch my breakfast. The above song is an ala Muslim rendition, sung in Javanese. Though I am a Christian, I feel strongly we should not shut out other religions. Who dares claim, "My religion is the true one and the others are "rapah-rapah" or garden refuse. In the realm of humanity we are all brothers and sisters with its origins from the same viz, from our Creator.
Back to the rural countryside, the above two videos are not a diorama, just a depiction of the rural heartland of the Sundanese in West Jawa. I would skip the exhaustic narrative of these videos as they are all to be found in books and the Internet
My images of Kuala Lumpur are busy narrow roads with queer names, and not Malay names. The time period can be considered as the evolution of the paleolithic age to the now modernitic age of the new Kuala Lumpur.
I did not stay long in Malaysia and after my 2-year matriculation course I headed overseas. But for the short period in time, I managed to gather enough images of Kuala Lumpur life and also my life at school that remain steadfast in my memory till the day I die. Kuala Lumpur was much less hotter then, than now. I remember the heavy rain and frequent thunderstorms that occur on an almost daily basis. The days were coolish and the nights even colder.
I made a few Malaysian friends when we were studying in Upper 6B1 at VI. Their names in random order are
Chim Kar Choon
Wong Seng Choy
Dr.Tan Beng Siang
Dr.Kwan Poh Woh
Dr.Mac Kean Boon
Dr.Sarmukh Singh
Jaspal Singh
Dr.Tan Kai Chah
Dr.TA Mohan
Dr.Teoh Siang Chin
Liew Fah Choong
Since my departure from KL, I had liased with Dr.Tan Beng Siang once before he returned to London. As for the rest, I do not know where they are. My efforts to trace them for the last two years turned up nothing. I have heard about the reunion dinners and such other dinners organized by the old boys association (VIOBA in short) but in my condition, the doctor has strictly prohibited me from going to such functions. So I am stuck where I am. I looked Facebook and Twitter, but no such luck, everything turned up blank. I have not the single clue as to whether they are alive or dead.
Well let's see what tomorrow will turn up.
Kamis, 11 Juni 2020
Ngulon Ga Ngulon Ngetan Ga Ngetan
Today's entry as all other entries is a very short one, an excerpt you might call it or Nukilan as we call it in Indonesian. I admit in my past blogs I have been too engrossed in the Javanese aspect or element of things forgetting our second most populous ethnic group, the Sundanese in Indonesia. The element of character "Ci" means water or river and is to be found frequently in cities and villages in West Jawa. It's most famous river must be the Cisadane River in Tangerang that flows into the Sea of Java. The Chinese ethnic group found here, called "Cina Benteng" speak a quaint and strange dialect, a mix of Indonesian, Chinese and Sundanese and a few Javanese words thrown in, very much like a serving of gado-gado. Or we might call it Gado-Gado Cina di Tangerang. Its capital city is Ciputat located in the regency of Tangsel (Short for Tangerang Selatan). The Sundanese, once confirmed enemies of the Javanese were centered in the region of Tatr Pasundan. But today, all is forgotten, old rivalries and wounds have been healed and the combined 800 tribes in Indonesia identify itself as one Bangsa Indonesia or fondly known as Bhinekka Tunggal Eka.....which means "All Different But One".
Sabtu, 06 Juni 2020
Early Chinese Indonesians Roots & A Little Bit On Malaysia
I have to take a short nap, the noon heat beating down on Malang city is almost suffocating. But before I take my absence, read this as a story as I may have got some of my facts wrong.
My two years in Kuala Lumpur from '71 to'72 was an eye opener and completely new experience. Although both countries share common borders and almost equal composition of ethnic groups, I did face many difficulties from a student's perspective. The two main obstacles were language and the second was food. Of the two, the earlier one posed major obstacles for me. For one thing colloquial Basa Malaysia and colloquial Basa Indonesia is as different as Mars is from Venus. And I was there to study and not to fraternize with the locals. So a major part of my life could be said to be that of the erstwhile Lone Ranger. I went around KL on my own, went meaning using my pair of legs and seldom I engaged in a tete-a-tete fearing my foreigness would be found out. I did not dare enter Chinese restaurants for fear of being shamed by my inability to converse in Chinese (Cantonese was then very prevalent in KL). So I walked and walked looking for eating places served by brown looking men (viz. the Malays). At least I did take the trouble to pick up some commonly used colloquial Malay.
Hence I discovered places like Batu Road, Petaling Street, Sultan Street, Pudu Road, Pasar Road, Imbi Road, Bukit Bintang Road etc.etc. At that time the names of roads were still in English. I was once caught in an embarassing situation and it amplified the differences between the two countries though seemingly similar in everything but yet dissimilar in everything. It happened when I wanted to buy newspaper and I walked along Batu Road and in one of the alleys I saw a Malay vendor who was selling what I was looking for. I said to him politely, "Pak berapa ongkos untuk koran ini" (it happened to be Utusan Malaysia) and he looked at me in a perplexed manner, and said "Anak ni baru muallaf ya?" I knew what he meant but I just hastily picked the newspaper and left hurriedly. He had mistook the word koran for the Muslim's holy canon the Al-Quran. In Indonesia koran means newspaper.
On weekends I would leave the hostel situated along Davidson Road and jaunt all the way to Pudu Road and Pasar Road. You could tell this was easily a pecinan (chinatown). There were swarms of Chinese all aroung. The only difference was the cacophony of sounds hitting my ears were entirely double dutch to me. Even the songs blaring from the shops located along the busy thoroughfare were playing Chinese pop melodies in a language that was alien to me as trying to figure out an ancient Germanic language. The sad part of it all I never got to taste the delicious and fragrant Chinese fare served in KL because I was just to proud to admit that I did not understand a single word of Chinese.
Above I have appended a video of a very popular motivational speaker in Indonesia. He has a doctorate and his roots are in North Sumatera. I am not a Buddhist but a Christian but I find many of the things he says in his seminars are very insightful and encourages a person to go beyond his comfort zone and take down the boundaries of prejudice, animosity, ill-will and slef-glorification that a person has erected all round him/or her. Dr. Ponijan comes from a small village, his family were poor but that did not deter him from pursing his dreams. He is humble always self-effacing man and not one bit pretentious. The thing here is to not self-judge and write people off just because someone else is of a different faith. Remember what God says in the Book of Acts, "God has no favorites.........".
With this I take leave and see all of you another day. Stay safe and always do what is right even if it is the most unpopular thing to do.
Jumat, 05 Juni 2020
Topsy Turvy
I had commenced on a personal journey to contact my old classmates at Victoria Institution, Kuala Lumpur, but my efforts have been futile and I am nowhere nearer my goal than one year ago. Indonesia, my spiritual and once my physical alma mater is struggling and battling the covid menace. I have tried to contact my old colleagues at LAPAN (Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional and sad to have discovered six of them had passed on. I do not know what to do next. Old people are often lonely, the world has no time for the old. We are not even considered antiques but "rongsokan" which means wrecks in the Indonesian language. To be sure I completed my matriculation at Victoria Institution but I haven't the slightest clue as to any of my teachers names. A trip back to Kuala Lumpur in February of this year revealed nothing and I am seriously considering burying altogether my efforts to revive a past that held so many happy and wonderful memories. I was in Upper Six B1 the class fondly dubbed as double math. In Malaysia, they have not the concept of NKRI harga mati (the abbreviations stand for Negara Kesatuan Republik Indonesia...and the ending in "harga mati". If you do not understand Indoenesian, but have a fair grasp of the Malay language, you could more or less guess its meaning.
Today, it's a Friday afternoon. The air is warm and quiet all around the neighborhood where I live. But the virus has yet to go away.
Collaboration Rather Than Confrontation
Love vs Hate------------Light vs Darkness
As usual this is one of my many short articles which I will churn our occassionaly for the benefit of those who would care to read it. I ...
Over Tropical Skies
-
I have not posted in more than six months now. In that six months many things have happened, the Covid-19 pandemic erupted and till now an ...
-
This Thursday morning started of badly. To top it all, I did not catch my breakfast. The above song is an ala Muslim rendition, sung ...
-
Today's entry as all other entries is a very short one, an excerpt you might call it or Nukilan as we call it in Indonesian. I adm...
-
Above is a short video clip of an ancient tradition held in the island of Java for centuries. The song and its composition depict an event...
-
It is Saturday noon and I can hear the clear and distinct sound of the muezzin from the mosque near where I am residing. Indonesia is the m...
-
web tools Javascript Codes Below is appended a video clip of the Chinese Lunar New Year as celebrated in Indonesia. A reminder thoug...
-
It is a Saturday morning, December 18, 2021, 3:59 am Ordinary Time. It has been raining consistently since last night without stopping a...
-
Tis a Monday morning. For those disturbed by the lyrics, rhythm or the song in general, please turn it off, the choice lies with yo...
-
The above traditional dance format emerged from Central Jawa near the borders with Tjirebon. The dance is called sintren or lai...
-
Maranatha I have beaten the medical specialist predictions on the amount of time I have left in this world. I am not proud or arrogant a...